Sambilegi Lor- Minggu (15/2) Masyarakat Padukuhan Sambilegi lor, kidul, sorogonen, karangploso menggelar tradisi Nyadran di makam Modinan, tradisi ini menjadi sarana untuk berwasilah dan mendoakan para ahli kubur dengan harapan amal ibadah para leluhur diterima oleh Allah SWT serta segala kesalahannya mendapat ampunan. Selain dihadiri waga padukuhan, sesepuh, pemuka agama, perangkat padukuhan, ketu RT/RW, dihadiri juga dari tingkat kapanewon, Panewu Depok Djoko Muljanto, S.P, Pj Lurah Maguwoharjo Isti fajaroh, S.P, M.MA, Kamituwa kalurahan maguwoharjo Bapak Muh.Zabidi dan beberapa anggota dewan Bapak Budi Sanyoto, Amd, Guntur Yoga Purnawan, S.T.

Foto. Sambutan Bu Pj Lurah Maguwoharjo
Selain sebagai bentuk doa dan penghormatan kepada leluhur, Nyadran memiliki makna spiritual dan sosial yang mendalam. Dari sisi spiritual, kegiatan ini menjadi momen bagi masyarakat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui doa bersama. Dari sisi sosial, Nyadran juga berperan sebagai ajang berkumpulnya warga Jarakan, menciptakan kebersamaan, serta mempererat tali silaturahmi antar warga.

Foto. Masyarakat padukuhan menggelar adat tradisi Nyadran.
Selain aspek spiritual dan sosial, Nyadran juga memberikan dampak positif bagi warga masyarakat, gotong royong bahu membahu. Pembuatan nasi kenduri yang menjadi bagian dari acara ini melibatkan seluruh warga masing-masing RT, sehingga rasa persatuan dan kesatuan semikin erat . Dengan demikian, Nyadran tidak hanya menjadi warisan budaya yang perlu dijaga, tetapi juga membawa manfaat luas bagi kerukunan masyarakat.
Selain menjaga nilai-nilai budaya dan keagamaan, Nyadran menjadi simbol kebersamaan dan keberkahan bagi warga, serta memperkuat ekonomi lokal melalui keterlibatan berbagai elemen masyarakat.
Sadranan adalah tradisi yang dilakukan oleh orang jawa yang dilakukan di bulan Sya'ban (Kalender Hijriyah) atau Ruwah (Kalender Jawa) untuk mengucapkan rasa syukur yang dilakukan secara kolektif dengan mengunjungi makam atau kuburan leluhur yang ada di suatu kelurahan.